detiksport/M Resha Pratama

Jakarta – Walau belum lama dipasangkan, ganda campuran Tantowi Ahmad/Liliyana Natsir menunjukkan penampilan yang cemerlang. Keduanya diharapkan bisa meneruskan tradisi emas bulutangkis Indonesia di Olimpiade.

Liliyana yang semula berduet dengan Nova Widianto, mulai sekitar pertengahan tahun lalu berganti tandem yakni Tantowi. Sampai saat ini keduanya telah mengoleksi lima gelar dari sembilan kejuaraan yang telah diikutinya.

Gelar terakhir yang diperoleh Tantowi/Liliyana adalah juara Singapura Terbuka 2011 dengan mengalahkan Zhang Nan/Zhao Yun Lei. Namun pasangan ini jharus puas menjadi dalam turnamen di kandang sendiri, Indonesia Super Series Premier juga atas lawan yang sama.

Indonesia memiliki tradisi emas di dalam cabang bulutangkis. Sejak dipertandingkan dalam turnamen empat tahunan pada 1992, tim “Merah Putih” selalu berhasil naik ke podium tertinggi.

Susi Susanti dan Alan Budikusuma berhasil menggondol emas dalam Olimpiade yang digelar di Barcelona itu. Sukses mereka diikuti oleh pasangan Ricky Subagja/Rexy Mainaky empat tahun kemudian.

Ganda putra kembali meraih emas pada Olimpiade 2000 yang dipersembahkan due Candra Wijaya dan Tony Gunawan. Gantian tunggal putra yang berjaya dengan menempatkan Taufik Hidayat di Sidney, empat tahun setelahnya dan diteruskan oleh Markis Kido/Hendra Setiawan di Beijing tahun 2008.

Mengingat penampilan Tantowi/Liliyana yang kian nyetel, bukan mustahil mereka bisa meraih sukses di level yang lebih tinggi: Olimpiade. Tradisi emas bulutangkis Indonesia diharapkan bisa berlanjut di London, tahun depan.

“Mereka harus melakukan perbaikan dari kekurangan yang ada. Tapi mereka pantas diapresiasi. Seharusnya mereka bisa meneruskan tradisi emas di Olimpiade,” ungkap Ivana Lie kepada detikSport, Senin (27/6/2011).

Kemunduruan prestasi Indonesia dalam dunia bulutangkis tak lepas dari regenerasi yang lambat. Menurut Ivana, saat ini hanya sektor ganda putra saja yang bisa dibilang lumayan bagus.

“China sangat bagus dalam regenerasi pemainnya. Mereka punya para pemain dengan usia muda tetapi sudah masuk jajaran pemain elit dunia,” lanjut mantan pebulutangkis nasional itu.

“Indonesia baru ganda putra saja yang mendekati. (Regenerasi)Tunggal putra parah, tunggal putri lebih parah lagi. Mungkin baru (Adrianti) Firdasari tetapi dia pun masih satu tingkat di bawah pemain China.”

“Kita harus mencari-cari pemain berbakat supaya tidak kosong. Banyak yang perlu diperhatikan seperti identifikasi pemain baru, pemilihan turnamen, pembinaan dan pemrograman latihan serta faktor pendampingan dari ahli-ahli seperti nutrisionis, motivator, psikoterapis, dan lain-lain”.
( rin / arp )

Share Post